Eks Bos BMKG dan Wamen PU Ingatkan Bobby Nasution tentang Potensi Banjir Besar
Table of content:
Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, Indonesia menghadapi tantangan besar terkait bencana alam, terutama banjir bandang. Peringatan tentang potensi bencana ini telah disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk ahli meteorologi dan pejabat pemerintah, yang mendesak perhatian serius agar masyarakat tidak lengah terhadap situasi yang ada.
Dwikorita Karnawati, mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengingatkan tentang bahaya yang dapat mengancam daerah-daerah tertentu, terutama Tapanuli di Sumatera Utara. Dengan pengalaman dan pengetahuannya, ia menekankan pentingnya kewaspadaan dan kesiapan menghadapi munculnya bencana di masa depan.
Mewaspadai Potensi Banjir Bandang di Sumatera Utara
Dalam peninjauan yang dilakukan pada bulan Oktober, Dwikorita bersama Wakil Menteri Pekerjaan Umum menjelaskan tentang ancaman yang mungkin muncul pada bulan November. Ia menekankan bahwa walaupun sudah ada peringatan dini, efek dari bencana ini bisa jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Melihat dari pengalaman sebelumnya, Dwikorita mengatakan bahwa meski semua langkah pencegahan telah diambil, kekuatan fenomena alam sering kali tak terduga. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk tetap siap siaga dalam mengatasi kemungkinan terburuk.
Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam mitigasi bencana. Dwikorita mengungkapkan bahwa komunikasi telah dilakukan untuk memastikan kesiapan di tingkat provinsi, meskipun hasilnya terkadang tidak sesuai harapan.
Analisis Geologi dan Dampak Perubahan Iklim
Salah satu sorotan Dwikorita adalah bahwa bencana kali ini tidak hanya dipicu oleh faktor alamiah. Ia mengemukakan bahwa ada kemungkinan intervensi manusia yang memperburuk situasi di beberapa daerah. Hal ini mendorong kebutuhan untuk mempertimbangkan aspek ekologis dalam setiap perencanaan pembangunan.
Penggunaan lahan yang tidak bijaksana dan kurangnya perhatian terhadap lingkungan dapat memperburuk dampak bencana. Dwikorita juga mengingatkan bahwa banyak daerah di Indonesia berada di geografi yang rentan terhadap bencana semacam ini, seperti Pegunungan Bukit Barisan.
Fenomena alam yang terjadi juga memperlihatkan betapa cepatnya perubahan iklim dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem. Kesiapan menghadapi bencana harus mencakup pemahaman tentang faktor-faktor yang dapat memperburuk situasi, termasuk kebijakan dan tindakan manusia itu sendiri.
Kesiapsiagaan dan Tindakan Preventif
Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan untuk meningkatkan tingkat kesiapsiagaan dengan melakukan simulasi dan latihan. Menurut Dwikorita, tingkat kesadaran masyarakat tentang risiko bencana juga perlu ditingkatkan agar lebih siap dalam menghadapi situasi mendesak.
Informasi yang jelas dan edukasi yang berkelanjutan tentang risiko banjir bandang sangat penting. Hal ini termasuk cara-cara untuk mengurangi risiko, mengidentifikasi daerah rentan, serta langkah-langkah untuk evakuasi yang harus dilakukan dengan cepat.
Pelibatan masyarakat dalam fase perencanaan juga menjadi penting agar setiap individu merasa memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan bersama. Kesiapan masif yang direncanakan dengan baik akan membantu mengurangi dampak bencana di masa mendatang.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now






