Harga Bahan Pokok Menjelang Natal dan Tahun Baru, Fokus pada Cabai dan Beras
Table of content:
Harga bahan pokok saat ini menjadi isu utama yang mengundang perhatian masyarakat, terutama menjelang perayaan besar seperti Natal dan Tahun Baru. Dalam konteks ini, Badan Pangan Nasional bersama Perum Bulog berupaya memastikan bahwa harga cabai, beras medium, dan premium tetap stabil sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas menyatakan bahwa penurunan harga cabai telah terlihat, di mana harga sempat mencapai Rp 80.000 per kilogram dan kini turun menjadi sekitar Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. Fluktuasi ini tidak disebabkan oleh kurangnya pasokan, tetapi lebih dipengaruhi oleh faktor cuaca yang mengganggu aktivitas panen.
Pemerintah juga telah mengambil langkah proaktif dengan mendatangkan hampir 40 ton cabai rawit merah dari Bener Meriah, Aceh, untuk memenuhi kebutuhan pasar di berbagai daerah termasuk Jakarta. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat pasokan dan menurunkan harga cabai di tingkat konsumen.
Bagaimana Pemerintah Mengawasi Stabilitas Harga Bahan Pokok?
Pemerintah melalui tim gabungan melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan bahwa harga bahan pokok tetap terjaga. Monitoring dilakukan di beberapa pasar utama seperti Pasar Rawamangun dan Pasar Beras Cipinang di Jakarta. Hasil dari pemantauan ini menunjukkan harga beras baik medium maupun premium berada di kisaran yang seharusnya.
Di Pasar Cipinang, harga beras medium tercatat di bawah HET yang ditetapkan, yaitu Rp 13.500 per kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan beras berjalan dengan baik dan distribusinya stabil, sehingga konsumen dapat mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
Regulasi pemerintah yang mengatur harga beras premium juga mendapat perhatian. Meskipun harga HET ditetapkan di angka Rp 14.900 per kilogram, harga lapangan beberapa pasar menunjukkan angka di bawah tersebut. Penting untuk terus memantau hal ini agar masyarakat tidak terjebak pada harga yang lebih tinggi.
Respon Masyarakat terhadap Fluktuasi Harga
Masyarakat diimbau untuk lebih cerdas dalam memilih lokasi belanja guna mendapatkan harga terbaik. Seperti yang diungkapkan, terdapat perbedaan harga antar pasar yang cukup signifikan. Contohnya, harga telur ayam ras di beberapa lokasi bervariasi antara Rp 30.000 hingga Rp 32.000 per kilogram.
Fluktuasi harga ini adalah hal yang umum terjadi, terutama untuk komoditas yang mudah rusak seperti cabai. Oleh karena itu, konsumen diharapkan bisa memahami bahwa harga bisa bervariasi dan disesuaikan dengan kondisi cuaca serta distribusi barang.
Dengan pengelolaan yang tepat, diharapkan stabilitas harga dapat terjaga, dan masyarakat tidak merasa dirugikan saat menjelang musim liburan. Melalui langkah-langkah ini, pemerintah berkomitmen untuk menciptakan iklim ekonomi yang sehat bagi masyarakat.
Peran Bulog dalam Penanganan Harga Sembako
Perum Bulog berperan penting dalam stabilisasi harga sembako, dengan memonitor harga yang berlaku di pasar. Direktur Utama Bulog menyatakan bahwa pihaknya melakukan kolaborasi dengan berbagai instansi untuk memastikan pasokan dan harga tetap terkendali. Hal ini merupakan bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
Dalam upaya ini, Bulog juga melaporkan adanya temuan harga bahan pokok yang melampaui HET, seperti minyak goreng dan telur yang dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Penyesuaian harga pun harus dilakukan agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku demi menjaga stabilitas ekonomi.
Monitoring dan operasi pasar yang terus dilakukan oleh Bulog diharapkan dapat menciptakan keseimbangan harga dan mengurangi beban masyarakat. Dengan demikian, masyarakat bisa lebih mudah mendapatkan bahan pokok di harga yang wajar.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







