Mengubah Stigma Pole Dancing di Korea Selatan Menjadi Olahraga yang Disiplin dan Terhormat
Table of content:
Di tengah arus perubahan sosial dan perkembangan olahraga, pole dancing di Korea Selatan masih menghadapi beragam tantangan. Meskipun kini lebih banyak diakui sebagai bentuk olahraga dan seni, banyak penari tiang masih terjebak dalam stigma yang melekat pada profesi mereka.
Pernyataan Kim Si-yeon, seorang instruktur di Studio OhHaUn Pole Dance, menggambarkan bagaimana komunitas penari tiang berjuang melawan persepsi negatif. Di dalam kelasnya, ia merasa bahwa setiap latihan adalah langkah untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap pole dancing.
Dalam pemaparannya, Kim menyoroti banyaknya tantangan yang dihadapi, mulai dari pelecehan hingga pandangan seksis. Namun, ia percaya bahwa melalui pendidikan dan latihan yang serius, mereka dapat mengubah cara pandang orang terhadap olahraga ini.
Perubahan Stigma dan Persepsi Pole Dancing di Masyarakat
Stigma terkait pole dancing sebagai aktivitas yang hanya bersifat erotis masih kuat di sebagian besar masyarakat. Sebagian orang masih cenderung mengasosiasikan olahraga ini dengan malam dan hiburan dewasa, bukan dengan validitasnya sebagai seni atau bentuk olahraga.
Bahkan, meski beberapa acara dan pertunjukan mengangkat pole dancing menjadi lebih positif, dampak dari budaya pop yang negatif turut mempengaruhi pandangan publik. Instruktur seperti Kim berusaha keras untuk menunjukkan bahwa pole dancing memerlukan keterampilan dan dedikasi.
Belum lama ini, dunia maya juga mengguncang dengan banyaknya komentar negatif tentang penari tiang. Hal ini memberikan tekanan tambahan bagi mereka yang ingin menonjolkan keahlian dan cinta terhadap seni ini.
Tantangan dan Diskriminasi yang Dialami Penari Tiang
Sementara beberapa penari tiang berjuang untuk mendapatkan pengakuan, mereka juga sering kali mengalami pelecehan dan diskriminasi. Kim di studionya sering menerima telepon atau pesan yang tidak pantas dari orang-orang tak bertanggung jawab yang menanyakan hal-hal yang sangat pribadi.
Di samping itu, insiden kriminal baru-baru ini juga menunjukkan betapa dalamnya stigma ini menembus kehidupan sehari-hari penari tiang. Kasus di Busan dan Seoul menjadi pengingat pahit dari perlakuan buruk yang masih dialami oleh komunitas ini.
Pelecehan yang dihadapi menunjukkan bahwa masih banyak ruang untuk perubahan demi menciptakan lingkungan yang lebih aman dan lebih menghargai para penari tiang. Penari seperti Kim berharap bisa memecah batasan dan stigma yang ada.
Langkah Menuju Pengakuan dan Penerimaan Pole Dancing
Ukuran untuk mengubah persepsi terkait pole dancing bukan hanya dari aktivitasnya, tetapi juga melalui pendidikan yang tepat. Pelatihan dan program yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran tentang seni ini sangat penting untuk membangun dukungan publik.
Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas pole dancing mulai mengadopsi strategi pemasaran dan promosi yang lebih efektif. Dengan menampilkan aspek fisik dan artistik dari seni ini, mereka berusaha untuk menunjukkan bahwa pole dancing adalah bentuk olahraga yang menantang.
Melalui upaya kolektif ini, diharapkan masyarakat bisa melihat pole dancing dengan cara pandang yang lebih positif. Dukungan dari masyarakat akan menjadi pendorong bagi penari tiang untuk terus berlatih dan menunjukkan bakat mereka tanpa rasa takut.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







