Kota Kecil di Hokkaido Menghadapi Overtourism Meski Pohon Fotogenik Telah Ditebang
Table of content:
Masalah Overtourism di Biei, Hokkaido menjadi salah satu perbincangan utama dalam industri pariwisata Jepang. Meskipun terkenal dengan keindahan alamnya, kota kecil ini kini menghadapi tantangan serius yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah wisatawan yang datang untuk berfoto di lokasi ikoniknya.
Salah satu daya tarik utama di Biei adalah deretan pohon birch putih yang memukau, yang telah menjadi latar belakang favorit para fotografer dan pelancong. Namun, arus pengunjung yang terus meningkat telah menyebabkan gangguan bagi masyarakat lokal, karena banyak dari mereka merasa terganggu oleh kehadiran wisatawan yang massal.
Kota Biei yang hanya berpenduduk sekitar 9.000 jiwa ini terpaksa mengambil langkah ekstrem untuk mengatasi masalah tersebut. Pada Januari tahun lalu, pemangku kepentingan lokal mengajukan permohonan untuk menebang beberapa pohon birch, demi mengurangi daya tarik lokasi tersebut.
Keputusan ini awalnya berhasil menurunkan jumlah pengunjung ke area tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, minat wisatawan untuk datang kembali muncul, dan aktivitas mereka seringkali menimbulkan keresahan bagi penduduk setempat.
Upaya Mengatasi Dampak Overtourism di Wilayah Tertentu
Sejak penebangan pohon, jumlah pengunjung di Biei memang mengalami penurunan sementara. Namun, dengan meningkatnya rasa penasaran di kalangan wisatawan, kembali terjadi lonjakan kunjungan. Ketidakpedulian mereka terhadap lingkungan menjadi masalah tersendiri bagi warga sekitar.
Misalnya, pada 6 Desember 2025, banyak wisatawan yang tiba dengan bus tidak memperhatikan lapangan pertanian di sekitarnya. Mereka langsung menuju “Pohon Tujuh Bintang”, yang menjadi destinasi utama bagi mereka untuk berfoto, tanpa merasa khawatir akan dampak yang ditimbulkan.
Dalam waktu sekitar sepuluh menit, mereka mengambil gambar dan meninggalkan lokasi tersebut. Namun, beberapa dari mereka dengan sengaja melanggar batas dan memasuki ladang pertanian demi mendapatkan sudut pandang yang lebih menarik untuk foto mereka.
Petugas keamanan di Biei bekerja keras untuk mengatur arus lalu lintas dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Namun, berdasarkan laporan dari Asosiasi Pariwisata Biei, banyak turis yang tetap mengabaikan peringatan dan malah semakin meningkatkan kerusakan pada lahan pertanian.
Respons Masyarakat terhadap Meningkatnya Jumlah Wisatawan
Kebangkitan kembali wisatawan ini tentu memicu respons beragam dari masyarakat. Penduduk lokal merasa bahwa kehadiran turis menjadi beban tambahan, bukan keuntungan. Banyak yang mengeluhkan kerusakan yang terjadi pada ladang-ladang mereka akibat penjelajahan yang tidak bertanggung jawab.
Sebuah survei dilakukan untuk memahami persepsi penduduk terhadap pariwisata. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar warga merasa tidak nyaman dengan banyaknya wisatawan yang datang. Mereka berharap ada regulasi yang lebih ketat untuk mengatur perilaku pengunjung.
Banyak warga Biei yang menginginkan adanya area terpisah bagi pengunjung agar lahan pertanian dan lingkungan alami tetap terjaga. Harapan ini belum diterapkan secara resmi, tetapi diskusi antara pemerintah setempat dan kelompok warga harus segera dilakukan.
Dalam keadaan situsi semacam itu, keberadaan pondok informasi atau pusat edukasi bagi wisatawan nampak menjadi langkah yang diharapkan untuk mengedukasi pengunjung tentang pentingnya menjaga lingkungan. Ini terutama penting bagi wisatawan asing yang mungkin tidak memahami norma-norma lokal.
Peran Pemerintah dalam Mengelola Pariwisata
Pemerintah setempat perlu mengambil peran aktif dalam mengatasi permasalahan ini agar pariwisata di Biei tetap berkelanjutan. Kebijakan yang telah terbukti efektif di tempat lain bisa diadaptasi untuk konteks lokal. Misalnya, penerapan batasan kuota jumlah pengunjung di area tertentu bisa menjadi solusi.
Dari evaluasi yang ada, kebijakan penalti untuk pelanggaran terhadap regulasi juga harus dipertimbangkan. Ini agar pelanggaran seperti masuk ke lahan pertanian bisa dicegah lebih efektif.
Inisiatif untuk menciptakan jalur wisata yang lebih ramah lingkungan juga dapat menjadi pilihan. Dengan cara ini, wisatawan bisa menikmati keindahan alam tanpa merusak habitat dan lahan lokal.
Kerja sama antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan masyarakat menjadi kunci sukses untuk mengelola pariwisata di Biei. Tanpa kolaborasi ini, masalah yang ada hanya akan terus berkembang dan mengancam keberlangsungan kota.
Menjaga Keberlanjutan Pariwisata di Biei untuk Masa Depan
Keberlanjutan dalam pariwisata menjadi salah satu topik hangat saat ini di Biei. Dengan jumlah pengunjung yang tidak terkontrol, dampak negatif yang ditimbulkan akan mengancam keberadaan lokasi-lokasi wisata ikonik. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih strategis harus diambil.
Langkah pertama adalah menciptakan kesadaran di kalangan wisatawan mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Edukasi mengenai perilaku yang baik saat berkunjung tentu saja sangat membantu untuk mencegah kerusakan.
Selanjutnya, pengembangan paket wisata yang lebih berkelanjutan bisa menjadi daya tarik baru. Memberikan pengalaman baru kepada wisatawan sembari menjaga alam tetap utuh harus menjadi prioritas.
Pada akhirnya, keberlanjutan tersebut akan bermanfaat bagi semua pihak. Wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih baik, sementara masyarakat lokal bisa tetap beraktivitas dan menjaga warisan budaya dan alam mereka tanpa gangguan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









