Konsumsi Gula Harian yang Sehat, Simak Batasannya di Tengah Tren Sugar Rush
Table of content:
Pernahkah Anda mendengar istilah “sugar rush”? Ini adalah fenomena yang umum dibicarakan, terutama di kalangan orangtua yang memperhatikan perilaku anak-anak mereka setelah mengonsumsi makanan manis. Banyak orang percaya bahwa konsumsi gula dapat membuat anak-anak menjadi sangat energik dan hiperaktif untuk sementara waktu, tetapi adakah kebenaran di balik anggapan ini?
Makna dari “sugar rush” sering kali disalahartikan. Meskipun secara medis mengacu pada kadar gula darah yang tinggi, di masyarakat umum, istilah ini lebih merujuk pada langkah energik yang tiba-tiba setelah mengonsumsi makanan manis. Namun, perdebatan mengenai efek konsumsi gula ini sudah berlangsung lama dan menarik perhatian banyak peneliti.
Penting untuk mendalami lebih dalam mengenai fenomena ini. Sebuah studi menunjukkan bahwa kegembiraan yang dialami anak-anak di berbagai acara sosial, seperti pesta atau perayaan, sering kali lebih dipengaruhi oleh suasana dan interaksi sosial dibandingkan dengan asupan gula yang mereka konsumsi. Penelitian lebih lanjut pun dapat memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang dampak gula terhadap perilaku manusia.
Pemahaman Lebih Jauh tentang Sugar Rush dan Perilaku Anak
Kita sering mendengar orang tua melaporkan anak mereka menjadi lebih aktif setelah menyantap makanan manis. Namun, studi meta analisis yang dilakukan oleh Konstantinos Mantantzis dan rekan-rekannya pada tahun 2019 menunjukkan bahwa fenomena ini lebih merupakan mitos. Penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun orangtua merasa anak mereka menjadi lebih aktif, hal itu mungkin terjadi tanpa adanya asupan gula yang signifikan.
Lebih lanjut, dalam percobaan tersebut, orang tua tidak mengetahui jenis camilan yang diberikan kepada anak mereka. Hasilnya, tetap ada anggapan bahwa anak-anak menunjukkan perilaku yang lebih energik, meskipun sebenarnya mereka tidak mengonsumsi gula. Ini menunjukkan bahwa harapan masyarakat tentang efek gula mungkin lebih terkait dengan psikologi dibandingkan dengan fisiologi.
Wanita hamil dan ibu menyusui juga harus mempertimbangkan asupan gula mereka. Kelebihan asupan gula dapat berdampak negatif pada kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk mengonsumsi gula dalam batas yang wajar untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Pentingnya Pembatasan Konsumsi Gula untuk Kesehatan
Selain memahami efek dari “sugar rush”, kita juga perlu memperhatikan jumlah gula yang kita konsumsi. Banyak ahli kesehatan menganjurkan agar asupan gula dibatasi hingga kurang dari 10% dari total kalori harian. Ini penting untuk mencegah berbagai masalah kesehatan di kemudian hari, seperti obesitas, diabetes, dan risiko penyakit jantung.
Sebagai contoh, jika kebutuhan kalori harian seseorang adalah 2000 kalori, maka batas aman konsumsi gula adalah sekitar 50 gram, yang setara dengan 4 sendok makan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan pedoman yang jelas mengenai batasan ini, sehingga diharapkan masyarakat bisa lebih sadar akan pola makan sehat.
Rekomendasi ini bukan hanya untuk orang dewasa, tetapi sangat penting untuk anak-anak juga. Mengikuti instruksi dari lembaga medis dapat membantu menjaga kesehatan generasi masa depan. Mengurangi asupan gula tidak hanya bermanfaat bagi pertumbuhan anak, tetapi juga bisa mencegah perkembangan kebiasaan makan yang tidak sehat.
Rekomendasi Asupan Gula Berdasarkan Usia Anak
Pentingnya membatasi gula tidak hanya berlaku untuk orang dewasa tetapi juga untuk anak-anak sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan panduan asupan gula harian yang direkomendasikan berdasarkan usia anak-anak. Ini adalah langkah penting untuk memastikan anak-anak mendapatkan nutrisi yang tepat tanpa overdosis gula.
Berikut adalah rekomendasi asupan gula harian berdasarkan usia: Untuk anak usia 2 hingga 4 tahun, disarankan tidak lebih dari 15-16 gram gula. Sementara itu, untuk anak usia 4 hingga 7 tahun, asupan gula sebaiknya tidak melebihi 18-20 gram.
Satu lagi golongan usia yang diperhatikan adalah dari 7 hingga 10 tahun, yang disarankan untuk tidak lebih dari 22-23 gram gula per hari. Rekomendasi yang lebih tinggi dialamatkan untuk anak yang lebih besar seperti di usia 10-13 tahun, dengan batas maksimum sekitar 24-27 gram.
- 2 – 4 tahun : 15-16 gram
- 4 – 7 tahun : 18-20 gram
- 7 – 10 tahun: 22-23 gram
- 10-13 tahun: 24-27 gram
- 13-15 tahun: 27 – 32 gram
- 15-19 tahun: 28 – 37 gram
Setiap orang tua perlu memperhatikan angka-angka ini sebagai acuan dalam pola makan anak sehingga tidak hanya sehat, tetapi juga seimbang.
Jadi, penting untuk mencermati asupan gula dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman yang baik mengenai efek gula, kita dapat mengarahkan pola makan yang lebih sehat dan mengurangi risiko masalah kesehatan di kemudian hari. Penelitian terus berlanjut, dan kita diharapkan akan semakin memahami dampak gula terhadap kesehatan dan perilaku kita.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







