Pengembangan Teknologi Deteksi TBC Menggunakan Suara Batuk dan IoT oleh ITS
Table of content:
loading…
Inovasi dalam bidang kesehatan terus bermunculan, mendorong kemajuan teknologi untuk mendeteksi berbagai penyakit secara lebih mudah. Salah satu inovasi tersebut berasal dari tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang memperkenalkan sistem skrining berbasis suara batuk untuk deteksi dini penyakit TBC.
Penyakit tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang jaringan paru-paru. Gejala utama penyakit ini sering kali terdiri dari batuk kronis yang berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu, menjadikannya sulit diabaikan.
Metode deteksi dini yang dihasilkan oleh tim ITS ini menawarkan akses lebih baik bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses ke alat kesehatan standar. Melalui teknologi ini, diharapkan jumlah kasus TBC dapat ditekan dengan cepat dan diintervensi lebih awal.
Inovasi Teknologi untuk Deteksi Dini TBC yang Efisien
Nathania Cahya Romadhona, ketua tim, menjelaskan bahwa sistem ini berfokus pada pengolahan sinyal suara batuk. Suara batuk yang bersifat inharmonik menghadirkan tantangan tersendiri, karena memiliki pola spektral yang tidak beraturan dan sulit untuk dideteksi dengan metode tradisional.
Melalui teknologi kecerdasan buatan, sistem ini mampu menganalisis fitur akustik batuk dengan menggunakan metode Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC). Dengan pendekatan ini, diharapkan analisis suara batuk menjadi lebih akurat dan relevan untuk mendeteksi potensi gejala TBC.
Peneliti juga menyebutkan bahwa diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dalam menangkap kompleksitas sinyal batuk ini. Hal ini penting untuk meningkatkan akurasi sistem deteksi dan memberikan hasil yang lebih dapat diandalkan bagi penggunanya.
Pentingnya Aksesibilitas dalam Skrining TBC
Salah satu tujuan utama inovasi ini adalah meningkatkan aksesibilitas bagi masyarakat. Banyak daerah, terutama di wilayah pedesaan, yang kekurangan akses terhadap alat deteksi TBC yang memadai.
Dengan sistem berbasis suara batuk ini, diharapkan masyarakat dapat melakukan skrining secara mandiri dan lebih cepat. Hal ini menjadi langkah efektif dalam upaya penyebaran informasi dan pendidikan kesehatan di kalangan masyarakat.
Keberadaan teknologi ini juga berpotensi untuk mengurangi beban sistem kesehatan. Dengan diberikan kemudahan dalam deteksi penyakit, masyarakat dapat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan mereka.
Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat Terhadap TBC
Pendidikan mengenai TBC perlu dilakukan secara kontinu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat mungkin tidak menyadari gejala awal penyakit ini, yang dapat mengarah pada keterlambatan pengobatan.
Melalui kampanye informasi yang efektif, diharapkan masyarakat dapat lebih peka terhadap gejala TBC dan segera melakukan skrining. Jika setiap individu memahami pentingnya deteksi dini, maka kasus TBC dapat ditekan secara signifikan.
Inisiatif seperti yang dilakukan tim ITS ini merupakan contoh nyata kolaborasi antara teknologi dan kesehatan. Mendukung pengembangan perangkat yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat adalah langkah penting untuk masa depan yang lebih sehat.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







