Proyek Kabel Laut Jakarta-Batam ‘Rising 8’ Diharapkan Beroperasi April 2026
Table of content:
Proyek kabel bawah laut ini tidak hanya menawarkan kapasitas yang besar, tetapi juga memprioritaskan aspek keamanan dan kepatuhan. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor 14 Tahun 2021 menjadi panduan utama dalam merancang rute kabel agar sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Dalam upaya melindungi infrastrukturnya dari potensi kerusakan, pihak pengelola menanam kabel pada kedalaman yang telah ditetapkan. Dani Samsul Ependi, Chief Operating Officer PT Ketrosden Triasmitra Tbk, menjelaskan pentingnya teknologi repeater yang ringkas untuk memperlancar proses penanaman kabel tersebut.
Kehadiran proyek sepanjang 1.128 kilometer ini terbagi dalam dua segmen utama yang masing-masing memiliki karakteristik khusus. Segmen pertama menghubungkan Jakarta dengan Batam, sedangkan segmen kedua akan menjangkau Singapura, menciptakan jaringan komunikasi yang lebih kuat dan handal di kawasan.
Rincian Segmen dan Konstruksi Kabel Bawah Laut
Segmen Jakarta-Batam mencakup panjang total 1.053,5 km dan dibangun secara mandiri oleh Triasmitra. Sementara itu, segmen Batam-Singapura sepanjang 75 km merupakan hasil kolaborasi antara Triasmitra dan Moratelindo.
Di area darat, stasiun pendaratan kabel dibangun dengan standar yang tinggi, mengedepankan aspek fungsi dan keamanan. Stasiun pendaratan di Tanjung Pakis, Karawang, telah mendapatkan sertifikasi Design Tier 3, yang menunjukkan kemampuan teknisnya yang teruji.
Daya listrik awal yang tersedia di stasiun pendaratan tersebut mencapai 800 kW, dengan kemampuan untuk diperbesar hingga 1,6 MW sesuai kebutuhan. Dengan demikian, stasiun pendaratan ini mampu mendukung operasional yang efisien dan handal di saat-saat kritis.
Keunggulan Teknologi dan Inovasi dalam Proyek
Teknologi repeater yang digunakan dalam proyek ini sangat inovatif dan menawarkan desain yang lebih compact. Hal ini memungkinkan proses penanaman kabel dilakukan secara simultan dengan penggelaran kabel, mengurangi waktu dan biaya implementasi.
Penggunaan teknologi modern ini juga meminimalkan risiko kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas laut, seperti penangkapan ikan dan pelayaran. Sehingga, keberlanjutan proyek ini terjaga dan efektif dalam jangka panjang.
Keberhasilan dari proyek ini tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak yang terlibat. Kerjasama antara Triasmitra dan Moratelindo menunjukkan betapa pentingnya sinergi untuk mencapai tujuan bersama dalam meningkatkan infrastruktur telekomunikasi di kawasan.
Pentingnya Keamanan dan Legalitas untuk Proyek Kabel Bawah Laut
Aspek keamanan menjadi salah satu fokus utama dalam proyek pembangunan kabel bawah laut ini. Dengan mengikuti regulasi yang telah ditetapkan, risiko kerusakan infrastruktur dapat diminimalisir secara signifikan.
Dari perspektif legalitas, proyek ini juga berupaya memenuhi semua syarat dan ketentuan yang berlaku. Hal ini penting untuk menciptakan kepercayaan tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat sekitar yang akan mendapatkan manfaat dari proyek tersebut.
Untuk meningkatkan reputasi dan daya saing, setiap elemen proyek diperhatikan dengan seksama. Sertifikasi yang diterima oleh stasiun pendaratan, seperti ISO untuk manajemen mutu, menjadi bukti dari komitmen untuk menjaga standar tinggi.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







